Tontonan TV apa sih yang mendidik??

aduh…..aduh…. aku pusing banget nih,

Acara tv yang memang bermacam-macam, namun tahukah kalian acara tv sekarang yang bisa dibilang mendidik?….

Acara tv sekarang bisa dibilang tidak ada yang mendidik, pasalnya acara tv sekarang ini hanya dipenuhi ole tayangan sinetron….sinetron, acara musuk dan acara musik lagi, hal itu tentu bukan merupakan tayanagan yang baik untuk ditonton oleh anak-anak terutama anak usia sekolah. Walaupan tujuannya menghibur, namun secara tidak langsung akan mempengaruhi si penonton tersebut. Terlebih-lebih untuk tayangan sinetron yang menampilkan adegan seronok/ porno/ ataupun sebagainya yang dirasa tidak pantas dipertontonkan ternyata malah dinikmati banyak orang. Hal itu akan berujung kepada tindakan nyata yang dicontoh dari adegan tersebut. Sungguh menyedihkan, apalagi jika adegan-adegan yang tidak seronok tersebut ditonton dan bahkan ditiru oleh kalangan anak-anak ataupun remaja.

Untuk mengantisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, maka kedaran diri kita perlu ditingkatkan, kita harus bisa meilah-milah tayangan apa yang pantas untuk kita tonton. Kita juga pelu lebih mewaspadai hal-hal tersebut tidak terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Kita harus berani mengingatkan ataupun melarang jika kita melihat keluarga kita (entah adik, kakak, ayah, ibu, tetangga ataupun saudara) yang menonton tayangan yang tidak pantas ditonton. Hal sekecil apapun akan mempengaruhi sedikit atau banyak hal yang membawa perubahan besar ke arah yang lebih baik, baik keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara.

Pendidikan Ekstra

Pendidikan ekstra adalah pendidikan sampingan artinya pendidikan yang diperoleh dari luar instansi atau bisa dikatakan pendidikan nonformal. Pendidikan ekstra sangat dibutuhkan oleh semua orang apalagi pada zaman sekarang ini, jika seseorang tak mempunyai ketrampilan maka sulit baginya mendapatkan pekerjaan dan secara langsung mempengaruhi kelangsungan hidupnya.

Noy Joy Without Pain!!!!

Itulah kata2 yang sering diucapkan oleh guru Bahasa Inggris q waktu q kelas 3 SMA. Saat itu merupakan saat yang menegangkan dan penuh tantangan bagi q…mungkin bukan hanya q yg merasakan, tapi seluruh siswa kelas 3 SMA. Mau tidak mau,,,,q harus melalui UN itu…hal yang paling menyebalkan adalah karena hari2 q lalui dengan belajar!!!……belajar!!!…..& belajar!!!….. Setiap jam,,,,,menit,,detik,,,kerjaan q adalah membaca,….membaca…& membaca buku2 pelajaran. Walaupun dari hati kecil q tak menyukai hal itu, tapi q sadar bahwa q akan menghadapi Perang Dunia Ke 4 yaitu Ujian Nasional. Usaha q belajar hari ini sampai menjelang UN adalahuntuk menentukan apakah q layak lulus atau tidak.!!! Hingga suatu hari…guru Bahasa Inggris q menyadari kejenuhan q menjalani ini semua…Beliau menyadarkan q dari kejenuhan q & berpesan “Noy Joy Without Pain” yang artinya Tak Ada Keberhasilan Tanpa Kerja Keras. Selain Itu beliau juga memberi kata2 mutiara untuk q, yaitu “Keraslah Pada Dirimu, Maka Dunia Akan Lunak Padamu….Tapi,,,Jika Kau Lunak Pada Dirimu, Maka Dunia Akan Keras Mengahantam mu!!!! Kedua pesan itu yang menginspirasi  q untuk kembali semangat menjalani hidup,,,,Hidup Untuk Sukses.

Hingga pada suatu hari,,tibalah hari yang paling menegangkan itu, ingin sekali q mempercepat detak jam agar hari2 itu cepat berlalu. Singkat cerita…hari yang menegangkan telah berlalu, dan kini ingin q lepaskan semua unek2 dalam hati yang selama beberapa bulan terakhir singgah di otak q. Tapi rasa lega q belum sepenuhnya hilang, karena q masih menantikan saat2 pengumuman kelulusan yang tinggal beberapa hari ini… Hari2 itu rasanya cepat berlalu dan akhirnya penantian q tiba..Q tak berani menatap kata2 Lulus atau Tak Lulus dari selembar kertas putih yang dibawa oleh ayahq,,,apapun yang tertulis dalam kertas, itu semua adalah nasib q.Dan ketika sedikit demi sedikit q mencoba membuka kertas itu,,,,dan apa yang tetulis…LULUS…. ahhhhhh…q lega sekali. Akhirnya kerja keras q selama ini membuahkan hasil. Q tak henti mengucap syukur kepada ALLAH SWT.

Dunia Pendidikan Di Indonesia

Berbicara mengenai pendidikan dinegeri ini memang tidak akan pernah ada habisnya.Didalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, banga dan negara. sudahkan pendidikan kita sesuai dengan isi UU terebut? jawabannya tentulah belum. Kondisi pendidikan di Indonesia sangat memperihatikan. Betapa tidak ! banyak sekolah-sekolah terutama didaerah-daerah terpencil yang sarana dan fasilitasnya terbatas. Bagaimana caranya agar pendidikan bangsa kita benar – benar berkualitas ? apakah –    Dilengkapi sarana dan fasilitas setiap sekolah yang memadai seperti computer, ruangan laboratorium praktek IPA, KIMIA,Internet. –    Dilengkapi perpustakaan yang referensi-referensi bukunya ada dari luar dan dalam negeri. –    Mengadakan study banding dari daerah ke pusat atau keluar negeri –    Mendatangkan guru – guru dari luar negeri seperti dari Amerika yang terkenal negara super power, jepang Belanda dll. Atau dari negara manapun yang berkualitas pendidikannya bagus. Sejak ditetapkannya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang menggantikan kurikulum sebelumnya, yaitu KBK yang pelaksanaannya belum memberikan hasil yang optimal sesuai yang diharapkan oleh pemerintah. Dengan munculnya KTSP yang konon katanya kurikulum tersebut dapat mempermudah para guru dalam menentukan tujuan akhir dari pembelajaran tersebut dan dapat digunakan atau dilaksanakan dimana saja, baik itu di kota maupun di daerah-daerah terpencil. Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Salah satu faktor yang mendukung bagi kemajuan adalah pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju atau mundur, sebab pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan. Bagi suatu bangsa yang ingin maju, pendidik harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Seperti sandang, pangan, dan papan, Namun, sangat miris rasanya melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Berbagai masalahpun timbul, mulai dari sarana yang tidak memadai, membengkaknya anak putus sekolah, kurikulum yang gonta-ganti, ketidakprofesionalan para pendidik, sampai kepribadian peserta didik yang jauh dari yang diharapkan.

Dimensi Pendidikan

guru

Ilmu pendidikan mempunyai 3 dimensi yang dapat kita bedakan sebagai sistematika ilmu pendidikan, yaitu :

  1. Dimensi lingkungan pendidikan : lingkungan pendidikan keluarga, lingkungan pendidikan sekolah dan ilmu pendidikan luar sekolah (di masyarakat).
  2. Dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan : a. persoalan-persoalan fondasional (persoalan-persoalan yeoritis dalam pendidikan), b. persoalan-persoalan struktural (masalah-masalah struktur lembaga pendidikan), c. persoalan-persoalan operasional (persoalan-persoalan praktis dalam kehidupan).
  3. Dimensi waktu dan ruang : disamping menganalisis masalah-masalah pendidikan yang kita hadapi sekarang dimasyarakat kita, perlu juga kita mempelajari masalah-masalah pendidikan yang pernah terdapat di masyarakat kita dan di beberapa masyarakat masyarakat lain di masa lampau ,di masa sekarang dan masa datang. Dengan berbekal kerifan yang kita gali dan khasanah sejarah pendidikan di masa lampau dan pendidikan kooperatif (pengetahuan tentang praktek-praktek pendidikan) di negara-negara lain rasanya akan menjadi mungkin bagi kita untuk menghadapi persoalan-persoalan pendidikan dewasa ini dengan pandangan serta sikap yang lebih ilmiah dan lebih profesional.

Selanjutnya syarat bagi disiplin ilmu, yaitu memiliki metode. Metode-metode yang dapat dipakai untuk ilmu pendidikan sebagai berikut :

  1. Metode Normatif, Metode ini berkenaan dengan konsep manusia yang diidealkan yang ingin dicapai oleh pendidikan. Metode ini juga menjawab pertanyaan yang berkenaan dengan masalah nilai baik dan nilai buruk.
  2. Metode Eksplanatori, Metode eksplanatomi bersangkut paut dengan pertanyaan tentang kondisi dan kekuatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil. Suatu rekomendasi praktis bagi para pendidik harus didasarkan pada pemahaman yang benar tentang hakekat peserta didik, perkembangn mereka, cara-cara belajar mereka, dan cara-cara mereka mereaksi pengaruh sosial. Suatu teori pendidikan yang sahih memberikan suatu eksplanasi yang memadai mengenai apa yang terjadi di alam, yang didasarkan pada bukti-bukti empiris.
  3. Metode Teknologis, Metode teknologis ini mempunyai fungsi untuk mengungkapkan bagaiman melakukannya dalam rangka menuju keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan yang diinginkan.
  4. Metode Deskriptif-Fenomologis, Metode ini mencoba menguraikan kenyataan-kenyataan pendidikan dan kemudian mengklarifikasikan sehingga ditemukan yang hakiki.
  5. Metode Hermeneutis, Metode ini untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna dan struktur kegiatan pendidikan.
  6. Metode Analitis Kritis (Filosofis), Metode ini menganalisis secara kritis tentang istilah-istilah , pertanyaan-pertanyaan, konsep-konsep dan teori-teori yang ada atau digunakan dalam pendidikan.

Hari Pendidikan Nasional

Tanggal 2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia, memperingati tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional di bidang pendidikan.

Tanggal 2 Mei 2009 mempunyai arti penting dalam kancah pendidikan nasional Indonesia. Memasuki abad 21 ini, pendidikan mempunyai arah tujuan yang jelas, yaitu memartabatkan manusia Indonesia di kancah internasional. Begitu juga baru saja bagi siswa-siswa SMA / MA, SMK, SMP/MTs dan di susul siswa SD/MI melaksanakan ujian nasional serta UASBN.

Namun begitu, dalam benak kita pendidikan di negeri ini belum beranjak melaju pesat menuju mutu yang memuaskan. Bila mau menengok ke belakang, ketika kemarin usai melaksanakan Ujian Nasional pada pelajaran matematika bagi siswa SMA/MA/SMK, raut wajah mereka banyak mengalami kekhawatiran akan hasil yang di capai dalam ujian tersebut. Harus seperti apakah yang bisa dilaksanakan oleh instuisi pendidikan kita? Apakah ini merupakan proses belajar yang salah ataukah kurang bergairahnya para siswa dalam mengikuti proses pendidikan setiap hari sehingga dikatakan gagal dalam pendidikan ?

Pada dasa warsa tahun 70 atau 80 -an para orang tua kita dalam sekolah mereka cerdas-cerdas. Padahal secara umum sarana prasarana masih sangat kekurangan. Kemudian di banding sekarang ini antara tahun 90 – 2000-an, rata-rata siswa mengeluh terhadap sulitnya pendidikan kita. Apa yang menjadi masalah dalam masalah ini ?

Tujuan pemerintah menaikkan rata-rata hasil UN 5,5 bisa sangat difahami untuk menaikkan rating mutu pendidikan nasional. Namun banyak fihak yang menganggap bahwa hal tersebut sangat memberatkan siswa. Kembali lagi, sebuah proses belajar yang salah, gagal memotivasi siswa atau kemauan siswa yang tidak semangat dalam belajar ?

Perubahan Zaman

Bila dikaji lebih jauh, kondisi tahun 70-80 an merupakan masa-masa pergerakan menuju perbaikan kondisi Indonesia. Semangat mereka sangat tinggi untuk mencapai rasa sukses dalam pendidikan. Lebih jauh jagi kalau menegok tahun sebelum tahun 70-an. Mereka sangat luar biasa dalam belajar. Berhitung tanpa alatb bantu mereka mampu. Beranjak ke tahun 70 – 2000 -an, siswa tanpa alat bantu sangat sulit untuk berhitung.

Perkembangan teknologi sangat berpengaruh bagi siswa-siswi di masa sekarang ini. Yang mengembangkan teknologi sekarang ini juga merupakan produk pendidikan tahun 60-80an. Berarti, bisa dikatakan bahwa siswa masa itu lebih brilian semangatnya dibanding masa sekarang ini.

Kembali lagi tentang hari Pendidikan Nasional, bahwa permasalahan lemahnya semangat para siswa harus disikapi secara serius oleh semua fihak baik para orang tua siswa, para teknisi pendidikan dan pemerintah. Ada baiknya duduk dalam satu meja untuk mencari formula yang tepat dalam memajukan pendidikan nasional. Apabila di ajak secara langsung membahas tentang hal itu, lebih baik dan masing-masing mempunyai rasa tanggung jawab untuk menjawab tantangan bangsa ini ke depan dalam membangun pendidikan Indonesia yang lebih maju, bermartabat dan setara dengan bangsa lain dalam ilmu pengetahuan.

Melalui Hari Pendidikan Nasional tahun ini, harus bertekat untuk memajukan bangsa Indonesia melalui jalur Pendidikan..

Cara menghadapi siswa dengan sifat-sifatnya

Kata orang, setiap siswa membawa sifat masing-masing. Kata-kata ini sepertinya tak terlalu salah. Banyak memang sifat siswa yang sebaiknya diketahui para guru. Dengan begitu, guru juga dapat mencari cara menghadapi siswa mereka. Berikut ini sifat siswa yang perlu diketahui dan difasilitasi siswa.

1. EGOIS

Umumnya, siswa yang egois maunya menang sendiri. Dia tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti semua keinginannya. Bila tidak, segala jurus ancaman pun akan ia lontarkan, dari mogok perintah, mogok belajar, mogok perhatian, dan tak mau belajar sampai berteriak-teriak di kelas maupun di luar kelas.


Yang harus dilakukan:

Jangan panik bila menghadapi siswa yang egois. GURU Tidak perlu marah, hadapi dengan lembut dan sabar. Yang terpenting adalah memberikan pengertian dan pengarahan.


2. PERAJUK

Ciri siswa perajuk adalah suka ngambek dan cenderung cengeng. Hampir sama dengan siswa egois, hanya saja siswa perajuk belum tentu keras kepala.


Yang harus dilakukan:

Bila siswa gampang merajuk, cobalah untuk membujuknya. Jangan dengan kekerasan, karena hal itu justru akan berdampak tak baik bagi perkembangan jiwanya. Aapalagi, kekerasan dilarang undang-undang perlindungan anak lho.


3. PEMALAS

Sifat siswa yang pemalas biasanya tidak mau mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan padanya. Ia mengandalkan orang lain untuk mengerjakannya.


Yang harus dilakukan:
Beri siswa pengertian dan contoh. Misalnya, setelah duduk di bangku kelas, tempat duduk harus dirapikan. Ajak ia untuk turut serta melakukan kegiatan tersebut.

4. NAKAL

Sifat nakal atau bandel wajar dimiliki oleh siswa. Biasanya mereka cenderung aktif, usil dan tak takut bahaya. Selain itu, siswa umumnya juga punya banyak akal.


Yang harus dilakukan:
Jangan bosan menasihati dan membimbingnya. Arahkan anak agar menjadi anak yang baik dan sopan. Yang penting, jangan dimarahi.

5. PENDENDAM
Ciri siswa pendendam adalah “hobi” menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalasnya di kemudian hari.

Yang harus dilakukan:
Jangan biarkan sifat pendendam bersarang dalam diri siswa. Pasalnya, sifat ini bisa merusak mental mereka. Berikan pengertian pada siswa bahwa “sifat mendendam” itu tidak baik. Selain dilarang agama, nantinya juga akan membuat mereka dijauhi oleh teman-teman mereka.

6. PEMBERONTAK
Umumnya, siswa yang memiliki sifat pemberontak susah diatur, kemauannya besar, dan merasa dirinya selalu benar. Yang lebih sering terjadi, mereka tidak peduli dengan omongan orang lain.

Yang harus dilakukan:
Pendekatan diri adalah jalan terbaik menghadapi anak pemberontak atau suka membangkang. Sebagai orang tua, Anda harus pandai meredam emosi. Berbicaralah dari hati ke hati.

7. PEMALU
Menutup diri, tak banyak bicara, itulah sebagian ciri dari anak pemalu. Selain itu, anak pemalu juga terkesan kuper alias kurang pergaulan.

Yang harus dilakukan:
Mengikutsertakannya dalam kegiatan sekolah, seperti tari, karate ataupun vokal grup.

Guru itu mendidik

guru

Mendidik adalah kata imbuhan yang berakar kata “didik”, dari kata itu pula terbentuk kata lain yakni pendidik dan terdidik. Kata mendidik merupakan kata kerja dari suatu perbuatan didik, yakni membuat orang jadi terdidik, mentransfer pengetahuan kepada orang lain dengan cara yang sistimatis. Jadi mendidik adalah suatu perbuatan pentrasferan pengetahuan kepada seseorang dari tidak tahu menjadi tahu secara sistimatis, sehingga bermanfaat dalam kehidupannya dimasa kini dan mendatang serta tidak ketergantungan berlebihan kepada orang lain. Hal ini berarti dengan adanya pendidikan manusia mampu hidup mandiri, dapat membedakan antara yang baik dengan yang tidak baik dan tentunya dapat menjadi khalifah di bumi.
Adapun kata pendidik lebih ditujukan kepada orang yang memberi didikan yakni Guru, sedangkan terdidik adalah orang yang menerima didikan yakni murid/siswa. Selain tiga kata tersebut diatas kita juga mengenal istilah pendidikan yang merupakan bentukan lain dari kata didik.

Pada prinsipnya secara universal guru memegang peranan penting, dalam artian secara edukatif mupun administratif dan sebagainya, karena seorang guru langsung berhadapan dengan peserta anak didik. Jadi segala apapun yang terjadi kepada anak didik itu itu merupakan penilain terhadap anak didik. Jadi sekali guru salah melangkah, tentunya pendidikan yang akan kita jalani di masa depan itu tetap akan merupakan kesalahan. Oleh sebab itu seorang guru tidak boleh salah dihadapan siswa. Jadi jangan sampai ada seorang guru mengatakan , eh maaf ini salah, ini tidak dibenarkan. Oleh karenanya seorang guru harus melakukan persiapan, baik di bidang pembelajaran, maupun dalam melakukan interaksi di dalam kelas.

Ingat, tugas guru bukan saja mengajar dengan memindahkan ilmu semata melainkan mendidik siswa menjadi manusia yang manusiawi. Untuk itu, guru secara total harus dapat menguasai kondisi faktual kejiwaan siswa. Tiap tingkah laku dan perubahannya perlu dicermati guru sehingga diperoleh ketepatan perlakukan.

Macam-Macam Asas Pendidikan

asas

Asas atau prinsip pendidikan adalah ketentuan-ketentuan yang dijadikan pedoman atau peganagn melaksanakan pendidikan agar tujuannya tercapai dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Asas-asas pendidikan yaitu :

  1. Asas ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang berarti di depan pendidik memberi contoh , di tengah memberi dorongan, di belakang memberi pengaruh agar menuju ke kebaikan.
  2. Asas pendidikan sepanjang hayat, yang berarti pendidikan itu dimulai dan lahir sampai mati.
  3. Asas semesta, menyeluruh dan terpadu.
  4. Asas manfaat, yang berarti pendidikan harus mengingat kemanfaatannya bagi massa depan peserta didik, bagi masyarakat, bangsa, negara dan agama.
  5. Asas usaha bersama, yang berarti pendidikan menekankan kebersamaan antara keluarga sekolah dan masyarakat.
  6. Asas demokratis, yang berarti bahwa pendidikan harus dilaksanakan dalam suasana dan hubungan yang proporsional antara pendidik dengan peserta didik, ada keseimbangan antara hak dan kewajiban pada masing-masing pihak.
  7. Asas adil dan merata, yang berarti bahwa semua kepentingan berbagai pihak harus mendapat perhatian dan perlakuan yang seimbang, sehingga tidak ada diskriminasi.
  8. Asas perikehidupan dalam keseimbangan, yang berarti harus mempertimbangkan segala segi kehidupan manusia, misalnya jasmani rokhani, dunia akherat, individual dan sosial, intelektual, kesehatan, keindahan dan sebagainya.
  9. Asas kesadaran hukum, dalam arti bahwa pendidikan harus sadar dan taat berlaku serta menegakkan dan menjamin kepastian hukum.
  10. Asas kepercayaan pada diri sendiri, yang berarti bahwa pendidikan peserta didik harus memiliki kepercayaan diri sehingga tidak ragu dan setengah-setengah dalam melaksanakan pendidikan.
  11. Asas efisiensi dan efektifitas, dalam arti pendidikan dituntut kehematan dan hasil guna yang tinggi.
  12. Asas mobilitas, dalam arti bahwa pendidikan harus ditumbuhkan keaktifan, kreatifitas, inisiatif, ketrampilan, kelincahan dan sebagainya.
  13. Asas fleksibilitas, dalam arti bahwa pendidikan harus diciptakan keluwesan (fleksibel) baik dalam materi maupaun caranya , sesuai dengan keadaan, waktu, dan tempat.

Potret Buram Pendidikan di Indonesia

kaya

miskin

Inilah Potret buram pendidikan di indonesia, dimana ada sebagian penduduk indonesia menjalani pendidikan dengan semua fasilitas yang mewah dan ironisnya ada sebagian penduduk indonesia yang menjalani pendidikan dengan fasilitas yang kurang dan memprihatinkan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai